Lambang Daerah
Penjelasan Arti Lambang :
Gambar perisai bersudut lima yang bersambung diatasnya gambar tudung saji melambangkan perlindungan rakyat dan perdamaian, Azas Pancasila (lima sudut perisai), perjuangan, ketangguhan phisik dan mental masyarakat dan pemerintah dalam mempertahankan dan melindungi diri beserta segala asset Bangka Tengah dari segala macam bentuk marabahaya dengan semangat jiwa dan percaya kepada diri sendiri.
Gambar lawang melambangkan pintu segala macam fungsinya, membuka diri terhadap hal-hal yang bersifat baik dan membengun, bulan Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (delapan garis kuning pada tiang).
Gambar gantang melambangkan gotong-royong dan kebersamaan, alat ukur/takaran.
Gambar tudng saji, melambangkan adapt istiadat masyarakat Bangka Tengah yang dikenal dengan istilah nganggung, gotong-royong dan kebersamaan.
Gambar pita semboyan, melambangkan manifestasi jiwa, semangat dan kepribadian masyarakat Bangka Tengah, yaitu kebersamaan untuk membawa daerah ke arah yang lebih baik dan maju.
Gambar lada, melambangkan sumberdaya alam bidang perkebunan yang khas, dan jumlah butirnya ada dua puluh empat, adalah tanggal peresmian Kabupaten Bangka Tengah, dan Pelantikan Penjabat Bupati Bangka Tengah di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung (24 Mei 2003).
Gambar ikan, melambangkan sumberdaya alam bidang kelautan yang berlimpah, kerendahan hati, kerukunan dan kebersamaan.
Gambar Pulau Bangka, melambangkan keberadaan dan identitas Kabupaten Bangka Tengah yang secara geografis terletak di tengah Pulau Bangka.
Gambar lingkaran, melambangkan tanah air/bumi, kebulatan tekad untuk membangun negeri, lautan sebagai symbol, sumber daya kelautan (lingkaran biru laut di tengah perisai).
Gambar daun, melambangkan sumberdaya alam di bidang perkebunan, pertanian, dan kehutanan, kesuburan dan kenyamanan, bulan terbentuknya Kabupaten Bangka Tengah, yaitu bulan Mei (lima tulang daun).
Gambar perahu, melambangkan sarana yang khas masyarakat Bangka Tengah untuk meraih harapan dan cita-cita, symbol kehidupan bermasysrakat dan bernegara.
Gambar timah batangan, melambangkan sumberdaya alam yang utama dan berlimpah (yang khas) di bidang pertambangan.
Tulisan Bangka tengah, melambangkan nama Kabupaten Bangka Tengah yang terletak di tengah Pulau Bangka, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Makna Warna Gambar
• Warna biru, melambangkan kejernihan suasana, keaslian watak, kebijaksanaan, ketenangan, kesetiaan, kepada agama dan Negara.
• Warna kuning/kuning emas, melambangkan kesejahteraan, keluhuranbudi, kebesaran jiwa, ke tuhanan, kehidupan yang abadi, keagungan, kejayaan, keadilan, kekuasaan, kewibawaan, dan kedewasaan/kematangan.
• Warna cokelat, melambangkan kekuatan (kokoh dan tegak), kekal abadi, keteguhan, ketabahan, dan keperkasaan.
• Warna hijau, melambangkan kemakmuran, kesejukan, kesegaran, kesuburan dan harapan.
• Warna putih/ perak, melambangkan kesucian (dalam hati dan perbuatan), kedamaian (cinta damai dan toleransi), tulus ikhlas, kejujuran, kesatriaan dan teguh hati.
• Warna merah, melambangkan kerakyatan, cinta (kepada sesama mahluk Allah, agama dan Negara), semangat dan keberanian.
Sejarah Kabupaten Bangka Tengah dan Kota Koba
Kabupaten Bangka Tengah dibentuk pada tanggal 25 Februari 2003 berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2003. Bersama-sama dengan pembentukan Kabupaten Bangka Tengah, dibentuk pula Kabupaten Bangka Selatan, Bangka Barat dan Belitung Timur. Wilayah Kabupaten Bangka Tengah Tengah terletak di Pulau Bangka. Secara administratif wilayah Kabupaten Bangka Tengah berbatas-an langsung dengan daratan wilayah kabupaten/kota lainnya di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu dengan wilayah Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka, dan Bangka Selatan. Pembentukan Kabupaten Bangka Tengah tidak semata-mata karena kebutuhan pengembangan wilayah propinsi, tetapi juga karena keinginan masyarakat di dalamnya, serta upaya untuk mempercepat pembangunan daerah dan terciptanya pelayanan publik yang lebih efektif dan efisien.
Pada awal berdirinya, Kabupaten Bangka Tengah memiliki luas daerah lebih kurang 2.156,77 Km2 atau 215.677 Ha dengan wilayah administrasi 4 kecamatan, 1 kelurahan, 39 desa dan 74 dusun. Untuk kepentingan akselerasi pembangunan daerah, pada tahun 2006 beberapa wilayah administrasi mengalami peningkatan status sehingga wilayah administrasi menjadi 6 kecamatan, 7 kelurahan, 50 desa dan 70 dusun. Data terakhir hasil registrasi penduduk Kabupaten Bangka Tengah pada tahun 2005 menunjukan jumlah penduduk mencapai 132.123 jiwa. Tersebar di Kecamatan Koba sebanyak 45.936 jiwa (34,77%), Kecamatan Pangkalan Baru sebanyak 42.703 jiwa (32,32%), Kecamatan Sungai Selan sebanyak 24.563 jiwa (18,59%), dan Kecamatan Simpang Katis 18.921 jiwa (14,32%).Berdasarkan data yang tersedia pada tahun 2005, jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di Kabupaten Bangka Tengah relatif sama banyak yakni, penduduk laki-laki sebanyak 68.717 jiwa atau sekitar 52,00% dari seluruh penduduk dan penduduk perempuan sebanyak 63.406 jiwa atau 48,00% dari seluruh penduduk atau berbeda hanya 4,00%.Kabupaten Bangka Tengah memiliki tingkat kepadatan penduduk, 61 orang per km2 pada tahun 200.
Sejak dibentuk, roda pemerintahan penyesuaian. Selama kurun waktu 2003 sampai dengan 2010, telah dilaksanakan beberapa pengangkatan/pelantikan pejabat pemerintahan sebagai berikut :
1. Pelantikan pejabat Bupati Bangka Tengah Drs. H. Abu Hanifah pada tanggal 24 Mei 2003 oleh Mendagri RI yang diangkat dengan SK No.131.28-250 tahun 2003 tentang Pengangkatan Pejabat Bupati Bangka Tengah Prov. Kep. Bangka-Belitung tanggal 21 Mei 2003.
2. Pelantikan PJ Bupati pada tanggal 1 Pebruari 2005 atas nama Drs. Iskandar Zulkarnaen berdasarkan SK Mendagri No. 131.29-3 Tahun 2005 tanggal 6 Januari 2005 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Pejabat Bupati Bangka Tengah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.
3. Pelantikan Drs. H. Abu Hanifah sebagai Bupati dan H. Erzaldi Rosman Djohan SE.MM, sebagai Wakil Bupati Bangka Tengah periode 2005-2010 berdasarkan SK Mendagri No. 131.29-498 tahun 2005 tentang Pemberhentian Pejabat Bupati dan Pengesahan Pengangkatan Bupati Bangka Tengah, hasil pilkada tahun 2005.
4. Pelantikan H. Erzaldi Rosman Djohan SE.MM sebagai Bupati Bangka Tengah periode 2010-2015 berdasarkan SK Mendagri No. 131.19-686 tahun 2010 tentang pengesahan pemberhentian dan pengesahan pengangkatan Bupati Bangka Tengah Periode 2010-2015 atas nama Bupati terpilih H. Erzaldi Rosman Djohan, SE.MM dan Ir. H. Patrianusa Sjahrun sebagai Wakil Bupati Bangka Tengah periode 2010-2015 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 132.19-687 Tahun 2010 tentang pengesahan pemberhentian dan pengesahan pengangkatan Wakil Bupati Bangka Tengah Periode 2010-2015 atas nama Wakil Bupati terpilih Ir. H. Patrianusa Sjahrun.
Sejarah Kota Koba
Perdebatan tentang asal-usul penggunaan kata Koba sama dengan perdebatan tentang penggunaan kata Bangka yang sampai sekarang belum usai. Sedikit berbeda dengan perdebatan pada asal-usul penggunaan kata Bangka, perdebatan seputar penggunaan kata Koba tidak terjadi dalam ranah perdebatan ilmiah dengan keberadaan bukti-bukti fisik, melainkan pada tutur lisan.
Setidaknya ada dua versi penggunaan asal-usul kata Koba. Versi pertama mengatakan bahwa kata Koba berasal dari sebuah kapal Cina pada masa awal penambangan timah dan kemudian berlabuh di Sungai Berok. Kapal Cina yang disebut wangkang tersebut bernama Kobe. Wangkang Kobe tersebut kemudian tenggelam di sekitar Sungai Berok yang sejak ratusan tahun lalu tidak terlacak lagi keberadaan reruntuhannya. Lama-kelamaan nama wangkang Kobe tersebut lalu berubah menjadi nama kampung yang karena perjalanan waktu dan perubahan dialek berubah menjadi kata Koba dan dikenal sampai sekarang.
Versi kedua mengatakan bahwa kata Koba berasal dari nama pohon asam yang berbuah besar (bulat seperti mangga) dan banyak terdapat di kampung ini. Karena ke-khas-annya tersebut, maka kampung ini disebut dengan Kampung Koba. Pendapat ini didukung oleh banyak tokoh masyarakat Koba yang diwawancari oleh peneliti.
Bisa dipastikan bahwa riwayat perdebatan penggunaan kata Koba tersebut sudah terjadi sejak sebelum abad ke-18 karena bukti tertua yang berhasil peneliti dapatkan sudah menyebut kampung ini dengan kata Koba. Bukti fisik pertama dan utama yang menunjukkan penggunaan kata Koba adalah sebuah peta yang berangka tahun 1820 yang dibuat oleh Kerajaan Inggris. Peta tua lain adalah sebuah peta Belanda yang dibuat pada tahun 1845 yang juga sudah menyebut kata Koba. Kedua peta tersebut sudah dengan jelas menyebut kata Koba, walaupun banyak tempat dalam peta tersebut yang masih disebut berbeda dengan yang dikenal sekarang ini, misalnya peta yang dibuat Inggris masih menyebut Pangkalpinang dengan Pangkal Bulo, Tanjung Berikat dengan Tg Barkat, Puding dengan M Puding, Toboali dengan Stoeade of Tubuh Ali. Sedangkan pada peta yang dibuat oleh Belanda juga masih menyebut banyak kampung dengan kata yang berbeda dengan sekarang, misalnya Guntung dengan Gontang, Puding dengan Pading, Penyak dengan Penjieak, Kurau dengan Koerouw, Namang dengan Namen, Sungai Selan dengan Soengi Slan, dan sebagainya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kata Koba sudah dikenal pada masa penjajahan Belanda dan berkuasanya Inggris. Namun dari kedua bukti fisik tersebut, tidak ada angka tanggal yang tercantum. Meski demikian, kata Koba yang tercantum pada kedua peta tua tersebut tentu saja mengambil referensi dari penggunaan kata yang digunakan oleh masyarakat setempat. Kata Koba dengan demikian tetap harus dikembalikan pada kedua versi tersebut di atas. Namun mengingat kedatangan para penambang dan pedagang Cina yang datang hampir bersamaan dengan Belanda, maka versi Wangkang Kobe tampaknya belum menjadi pakem yang lama, padahal bisa dipastikan kata Koba pada masa peta tersebut dibuat sudah menjadi pakem. Dengan demikian, tutur lisan yang mengatakan bahwa kata Koba berasal dari pohon asam Koba yang dulu banyak terdapat di kampung ini dapat lebih diterima.
Penggunaan kata Koba juga tampaknya didukung oleh fakta bahwa masyarakat Pulau Bangka banyak menggunakan nama-nama pohon untuk menyebut sebuah nama tempat, lihat misalnya Terentang, Jelutung, Pangkalbuluh, Pangkalpinang, dan sebagainya. Dengan demikian, penggunaan kata Koba juga dapat diidentifikasi sebagai bagian dari kebiasaan tersebut, yaitu nama dari sebuah pohon asam. Oleh karena itu, penggunaan kata Koba pada versi ini dipastikan sudah berlangsung cukup lama, dituturkan secara lisan, dan masih diyakini oleh generasi tua yang hidup pada masa sekarang ini.
(Sumber : Buku Sejarah Hari Lahir Koba)
INFORMASI BUAT KITA SEMUA
Kamis, 03 Maret 2011
Proses Pembuatan Kecap Air kelapa
Pembuatan kecap air kelapa merupakan pemanfaatan dari buah kelapa yang memang merupakan komoditi yang dapat diandalkan di Indonesia, namun pemanfaatannya masih terbatas dan kebanyakan diprioritaskan untuk kelapa yang juga berlimpah untuk pembuatan minyak kelapa, kopra dan lainnya sehingga masih belum banyak alternatif untuk mengoptimalkan pemanfaatan air kelapa untuk menjadi suatu produk yang murah dan pembuatannya mudah yaitu kecap manis dan asin.
Pada prinsipnya, pembuatan kecap dan air buah kelapa sama dengan pembuatan kecap dan kacang kedelai, bahkan jauh lebih mudah dan tidak memakan waktu pembuatan yang terlalu lama.
Air kelapa disaring, dicampur gula merah, bawang putih, sereh, laos, daun salam, vetsin, kedelai bubuk, keluwak, kemiri, pehkak, dan wijen, kemudian dimasak kurang lebih 2 jam.
Air kelapa merupakan bagian dan buah kelapa yang mempunyai kandungan nutrisi / zat gizi cukup lengkap bagi kesehatan manusia. Pembuatan kecap di Indonesia kebanyakan dilakukan secara tradisional yaitu dengan fermentasi oleh kapang.
Menurut Standar Industri Indonesia (SII No. 32 th 1974), kecap adalah cairan kental yang mengandung protein yang diperoleh dari rebusan kedelai yang telah diragikan dan ditambahkan gula, garam serta rempah-rempah.
Keuntungan pembuatan kecap dan air kelapa antara lain prosesnya lebih cepat dan lebih mudah dan pada pembuatan kecap dan kedelai. Dengan penambahan kedelai atau tempe (1 kg / I0 liter untuk mutu I dan 0,7 kg / 10 liter untuk mutu II), kandungan proteinnya dapat memenuhi syarat mutu kecap.
Syarat mutu kecap menurut SII No. 32/SI/74 adalah
1. protein untuk Mutu I min 6% dan Mutu II min 2%
2. logam berbahaya (Hg, Pb, Cu, Au) negatif untuk Mutu I dan II
3. bau, rasa, warna, kenampakan normal untuk Mutu I dan II
Pada prinsipnya, pembuatan kecap dan air buah kelapa sama dengan pembuatan kecap dan kacang kedelai, bahkan jauh lebih mudah dan tidak memakan waktu pembuatan yang terlalu lama.
Air kelapa disaring, dicampur gula merah, bawang putih, sereh, laos, daun salam, vetsin, kedelai bubuk, keluwak, kemiri, pehkak, dan wijen, kemudian dimasak kurang lebih 2 jam.
Air kelapa merupakan bagian dan buah kelapa yang mempunyai kandungan nutrisi / zat gizi cukup lengkap bagi kesehatan manusia. Pembuatan kecap di Indonesia kebanyakan dilakukan secara tradisional yaitu dengan fermentasi oleh kapang.
Menurut Standar Industri Indonesia (SII No. 32 th 1974), kecap adalah cairan kental yang mengandung protein yang diperoleh dari rebusan kedelai yang telah diragikan dan ditambahkan gula, garam serta rempah-rempah.
Keuntungan pembuatan kecap dan air kelapa antara lain prosesnya lebih cepat dan lebih mudah dan pada pembuatan kecap dan kedelai. Dengan penambahan kedelai atau tempe (1 kg / I0 liter untuk mutu I dan 0,7 kg / 10 liter untuk mutu II), kandungan proteinnya dapat memenuhi syarat mutu kecap.
Syarat mutu kecap menurut SII No. 32/SI/74 adalah
1. protein untuk Mutu I min 6% dan Mutu II min 2%
2. logam berbahaya (Hg, Pb, Cu, Au) negatif untuk Mutu I dan II
3. bau, rasa, warna, kenampakan normal untuk Mutu I dan II
Timah dan Temanku
Bagi orang yang tidak berpendidikan, mereka berfikir sangat mudah untuk menghasilkan segepok uang. Bekerja hanya perlu tenaga saja tanpa perlu adanya ilmu. Begitulah pola pikir sebagiaan orang di daerahku, Koba Bangka Tengah, yang terletak di Propinsi Bangka Belitung.
Pulau Bangka mempunyai sebutan yang bergengsi “Kota Timah”, termasuk juga diwilayah Kota. Semenjak di Koba banyak menghasilkan timah, banyak orang menggali timah di wilayah Koba untuk mencari timah. Koba dulunya merupakan tempat yang indah dengan di tumbuhi pepohonan dan air sungai masih jernih. Kata orang, dahulu masih ada anak – anak yang bermain disungai, mandi – mandi ataupun hanya bermain air. Kami telah dirusakkan oleh para penggali timah. Pohon – pohon di tebang demi menciptakan sepetak tanah penghasil timah. Apabila tidak menghasilkan timah. Apabila tidak menghasilkan timah, orang – orang pindaj mencari lahan yang lain. Di sungaipun kini jarang ditemukan orang – orang yang mandi, karena air disungai telah tercemar oleh limbah hasil penggalian timah. Orang yang melakukan semua itu tidak pernah tahu, bahwa jika sebuah tempat yang dirusaknya dapat membawa bencana.
Timah – timah yang di dapatkan dari hasil penggalian, kemudian dijual, dari hasil penjualan itu mereka akan memperoleh untung yang sangat besar. Hal ini membawa dampak buruk bagi orang – orang kecil, mereka jiga ingin memperoleh untung yang besar. Maka orang – orang kecil berpikir agar mereka dapat seperti itu. Akhirnya para petani, guru, pengangguran termasuk anak – anak sekolah, berubah profesi menjadi pencari timah atau bisa dis ebut dengan istilah ngelimbang. Akibatnya banyak pendatang yang membuka lapangan kerja di Koba sebagai pencari timah. Kota Koba malah semakin rusak. Cobalah para masyarakat tahu akan arti keindahan lingkungan. Mungkin saja mereka tidak akan berdiam diri membiarkan lingkungan menjadi rusak.
Pemerintah yang sedang besiap – siap untuk menyambut Adipura, menajdi berkecil hati, karena Kota Koba pemandangannya banyak yang rusak. Demi memperbaiki keadaan itu. Maka dibentuklah Green Babel, yaitu sebuah program untuk menghijaukan Kota Koba kembali dengan cara menanam bibit – bibit tanaman di tempat yang gundul dan tempat penggalian timah. Kegiatan ini pun melibatkan banyak pihak.
Selain merusak lingkunga, kegiatan menggali timah sedikit – demi sedikit juga mulai merusak sebagian anak – anak di Kota Koba yang terlena akan hasil penjualan timah.Mereka mulai meninggalkan bangku sekolah untuk pergi mencari timah di tempat sisa – sisa hasil penggalian orang lain. Karena mana mungkin menggalikan tanah sendiri. Mereka sudah tidak memikirkan lagi masa kecil mereka yang biasanya dihabiskan untuk brmain dan belajar.Maka mereka pun telah menjadi anak – anak timah. Orang tua mereka tidak pernah perduli akan pendidikan dan kelakuan anaknya, ditambah lagi dengan anggapan para orang tuaitu, bahwa mencari uang tidaklah sulit, sehingga pendidikan anaknya diabaikan. Hal itu disebabkan juga oleh rendahnya pendidikan orang tua mereka.Masa kanak – kanak biasanya dilewati dengan dan bermai, tapi pra anak – anak timah melewati masa kecilnya dengan bekerja demi uang. Ternyata uang dapat menggelapkan mata semua oran. Hanya demi uang, orang- orang mampu melakukan apa saja.
Anak –anak didaerah juga menjadi dewasa sebelum waktunya, karena mereka punya banyak uang dari hasil kerja mereka sndiri, mereka senang berfoya – foya untuk menghabiskan uangnya, seperti mabuk – mabukan, dan merokok. Anak –anak di lingkungan timah selalu mengikuti gaya hidup negatif anak – anak kota yang sering merekA lihat di siaran televisi, yang akhirnya menjadi kebiasaan sehari - hari mereka.
Anak – anak timah mempunyai masa depan yang suram. Bagaimana tidak? Jika suatu saat nanti bahan tambang habis, bagaimana mereka akan hidup jika keahlian mereka hanya mencari bahab tambang. Mau mencari pekerjaan lain susah , karena mereka tidak mempunyai ijazah untuk mencari pekerjaan akibat mereka tidak sekolah. Itulah sebabnya jika mereka hanya peduli akan uang . Selain masa depan mereka suram. Masa depan keluarga mereka juga suram. Anak – anak timah banyak yang menjadi yatim, karena ayah mereka yang menjadi tulang punggung keluarga, harus menanggung resiko yang besar. Jika pada saat menggali tanah, tiba – tiba tanah yang diatas jatuh menimpa semua yang ada di bawahnya, tak terkecuali orang yang berada dibawah. Maka tak mungkin nyawa orang itu terselamatkan, karena tertimbun tanah.
Sekarang ini juga ada Tambang Inkonvensional ( TI ) yang beroperasi tak jauh dari lingkungan sekolah. Hal ini dapat menggangu proses belajar karena banyak anak sekolah yang melihat kegiatan TI tersebut. Selain itu suara mesin – mesin TI terdengar menggemuruh, sehingga mengganggu konsentrasi pelajar. Maka hal yang terbaik untuk itu adalah janganlah Tambang Inkonvensional beropersi ditempat proses belajar berlangsung.
Akibat berdirinya TI – TI, lingkungan dapat menjadi rusak. Lingkungan yang rusak membawa mala petaka jikalau sudah rusak parah, butuh waktu yang lama untuk memperbaikinya. Seharusnya mereka berpikir jika mereka merusak alam, keindahan alam apa nanti yang akan diwariskan pada anak cucu mereka. Akankan para anak – anak dimasa yang akan datangmasih bisa melihat alam yang indah, jika alam sudah dirusakkan. Mungkin rerimbunan pohon dan kicauan burung tak terlihat lagi. Selain itu juga,jika bahan tambang diambil terlalu banyak dari bumi, pasti lama kelamaan akan habis. Jika sudah seperti itu, kemungkinan di masa mendatang tidak akan ada lagi bahan – bahan tambang.
Jika para anak – anak timah berkelakuan seperti itu, bagaimana dengan masa depan mereka? Jadi seharusnya mereka perlu dimotifasi agar terus melanjutkan sekolah. Bukankah ilmu lebih penting dari segalanya?
Pulau Bangka mempunyai sebutan yang bergengsi “Kota Timah”, termasuk juga diwilayah Kota. Semenjak di Koba banyak menghasilkan timah, banyak orang menggali timah di wilayah Koba untuk mencari timah. Koba dulunya merupakan tempat yang indah dengan di tumbuhi pepohonan dan air sungai masih jernih. Kata orang, dahulu masih ada anak – anak yang bermain disungai, mandi – mandi ataupun hanya bermain air. Kami telah dirusakkan oleh para penggali timah. Pohon – pohon di tebang demi menciptakan sepetak tanah penghasil timah. Apabila tidak menghasilkan timah. Apabila tidak menghasilkan timah, orang – orang pindaj mencari lahan yang lain. Di sungaipun kini jarang ditemukan orang – orang yang mandi, karena air disungai telah tercemar oleh limbah hasil penggalian timah. Orang yang melakukan semua itu tidak pernah tahu, bahwa jika sebuah tempat yang dirusaknya dapat membawa bencana.
Timah – timah yang di dapatkan dari hasil penggalian, kemudian dijual, dari hasil penjualan itu mereka akan memperoleh untung yang sangat besar. Hal ini membawa dampak buruk bagi orang – orang kecil, mereka jiga ingin memperoleh untung yang besar. Maka orang – orang kecil berpikir agar mereka dapat seperti itu. Akhirnya para petani, guru, pengangguran termasuk anak – anak sekolah, berubah profesi menjadi pencari timah atau bisa dis ebut dengan istilah ngelimbang. Akibatnya banyak pendatang yang membuka lapangan kerja di Koba sebagai pencari timah. Kota Koba malah semakin rusak. Cobalah para masyarakat tahu akan arti keindahan lingkungan. Mungkin saja mereka tidak akan berdiam diri membiarkan lingkungan menjadi rusak.
Pemerintah yang sedang besiap – siap untuk menyambut Adipura, menajdi berkecil hati, karena Kota Koba pemandangannya banyak yang rusak. Demi memperbaiki keadaan itu. Maka dibentuklah Green Babel, yaitu sebuah program untuk menghijaukan Kota Koba kembali dengan cara menanam bibit – bibit tanaman di tempat yang gundul dan tempat penggalian timah. Kegiatan ini pun melibatkan banyak pihak.
Selain merusak lingkunga, kegiatan menggali timah sedikit – demi sedikit juga mulai merusak sebagian anak – anak di Kota Koba yang terlena akan hasil penjualan timah.Mereka mulai meninggalkan bangku sekolah untuk pergi mencari timah di tempat sisa – sisa hasil penggalian orang lain. Karena mana mungkin menggalikan tanah sendiri. Mereka sudah tidak memikirkan lagi masa kecil mereka yang biasanya dihabiskan untuk brmain dan belajar.Maka mereka pun telah menjadi anak – anak timah. Orang tua mereka tidak pernah perduli akan pendidikan dan kelakuan anaknya, ditambah lagi dengan anggapan para orang tuaitu, bahwa mencari uang tidaklah sulit, sehingga pendidikan anaknya diabaikan. Hal itu disebabkan juga oleh rendahnya pendidikan orang tua mereka.Masa kanak – kanak biasanya dilewati dengan dan bermai, tapi pra anak – anak timah melewati masa kecilnya dengan bekerja demi uang. Ternyata uang dapat menggelapkan mata semua oran. Hanya demi uang, orang- orang mampu melakukan apa saja.
Anak –anak didaerah juga menjadi dewasa sebelum waktunya, karena mereka punya banyak uang dari hasil kerja mereka sndiri, mereka senang berfoya – foya untuk menghabiskan uangnya, seperti mabuk – mabukan, dan merokok. Anak –anak di lingkungan timah selalu mengikuti gaya hidup negatif anak – anak kota yang sering merekA lihat di siaran televisi, yang akhirnya menjadi kebiasaan sehari - hari mereka.
Anak – anak timah mempunyai masa depan yang suram. Bagaimana tidak? Jika suatu saat nanti bahan tambang habis, bagaimana mereka akan hidup jika keahlian mereka hanya mencari bahab tambang. Mau mencari pekerjaan lain susah , karena mereka tidak mempunyai ijazah untuk mencari pekerjaan akibat mereka tidak sekolah. Itulah sebabnya jika mereka hanya peduli akan uang . Selain masa depan mereka suram. Masa depan keluarga mereka juga suram. Anak – anak timah banyak yang menjadi yatim, karena ayah mereka yang menjadi tulang punggung keluarga, harus menanggung resiko yang besar. Jika pada saat menggali tanah, tiba – tiba tanah yang diatas jatuh menimpa semua yang ada di bawahnya, tak terkecuali orang yang berada dibawah. Maka tak mungkin nyawa orang itu terselamatkan, karena tertimbun tanah.
Sekarang ini juga ada Tambang Inkonvensional ( TI ) yang beroperasi tak jauh dari lingkungan sekolah. Hal ini dapat menggangu proses belajar karena banyak anak sekolah yang melihat kegiatan TI tersebut. Selain itu suara mesin – mesin TI terdengar menggemuruh, sehingga mengganggu konsentrasi pelajar. Maka hal yang terbaik untuk itu adalah janganlah Tambang Inkonvensional beropersi ditempat proses belajar berlangsung.
Akibat berdirinya TI – TI, lingkungan dapat menjadi rusak. Lingkungan yang rusak membawa mala petaka jikalau sudah rusak parah, butuh waktu yang lama untuk memperbaikinya. Seharusnya mereka berpikir jika mereka merusak alam, keindahan alam apa nanti yang akan diwariskan pada anak cucu mereka. Akankan para anak – anak dimasa yang akan datangmasih bisa melihat alam yang indah, jika alam sudah dirusakkan. Mungkin rerimbunan pohon dan kicauan burung tak terlihat lagi. Selain itu juga,jika bahan tambang diambil terlalu banyak dari bumi, pasti lama kelamaan akan habis. Jika sudah seperti itu, kemungkinan di masa mendatang tidak akan ada lagi bahan – bahan tambang.
Jika para anak – anak timah berkelakuan seperti itu, bagaimana dengan masa depan mereka? Jadi seharusnya mereka perlu dimotifasi agar terus melanjutkan sekolah. Bukankah ilmu lebih penting dari segalanya?
Senin, 26 Oktober 2009
Obat Buat Rambut Yang Rontok
Ini adalah kebiasaan aneh yang dilakukan salah satu narasumber yang pernah penulis temui. Sebut saja namanya Mas Bagus. dipanggil Mas karena beliau memang asli keturunan jawa. Mas Bagus ini pernah mengalami kerontokan rambut dulunya, tapi entah dari mana beliau mendapatkan informasi tentang pengobatannya penulis pun enggak pernah dikasi tahu. Mas Bagus ini mengalami kerontokan karena beliau sering melakukan pelurusan rambut, istilahnya itu catok rambut atau apa gitu. karena seringnya melakukan hal itu, rambutnyapun sering mengalami kerontokan. Tapi sekarang berkat keanehan yang dilakukannya, rontok rambutnya pun kini enggak pernah terjadi lagi.
Mas Bagus ini sering merawat rambutnya dengan kulit semangka dan getah pisang. Aneh bukan, emang penulis belum menemukan informasi kasiat dari kulit semangka dan getah pisang tersebut. Tapi setiap 2 hari sekali Mas Bagus selalu mengusapkan getah pisang ke rambutnya, dan setiap hari beliaupun mengusapkan kulit dalam dari semangka ke kepalanya. Berkat apa yang dilakukan Mas Bagus, rambut rontoknyapun tak pernah rontok lagi.
Penulis Membuat tulisan ini berdasarkan fakta yang dilakukan oleh Mas Bagus sekaligus teman akrab penulis sendiri.
Mas Bagus ini sering merawat rambutnya dengan kulit semangka dan getah pisang. Aneh bukan, emang penulis belum menemukan informasi kasiat dari kulit semangka dan getah pisang tersebut. Tapi setiap 2 hari sekali Mas Bagus selalu mengusapkan getah pisang ke rambutnya, dan setiap hari beliaupun mengusapkan kulit dalam dari semangka ke kepalanya. Berkat apa yang dilakukan Mas Bagus, rambut rontoknyapun tak pernah rontok lagi.
Penulis Membuat tulisan ini berdasarkan fakta yang dilakukan oleh Mas Bagus sekaligus teman akrab penulis sendiri.
Harapan Penulis, Jika ada diantara teman-teman yang memiliki informasi tentang apa yang penulis sampaikan mohon untuk masukannya.
Langganan:
Postingan (Atom)